Minggu, 18 November 2012

#emotional quran recitation,

#1. Mishary Rashid beautiful recitation
 http://snd.sc/Z3wQP3
#2. Sura Ibrahim 35-52 | Mishary rashid much of crying recitation
http://youtu.be/7Ja2WTHLajA
#3 Al Mu'minun Mishary Rashid Alafasy crying Great Emotional Recitation
http://youtu.be/-cZK7Es-udY
more? soon

How the Salaf were (and weren’t) when hearing the Quran and Dhikr



It was said to ‘Â`ishah – Allâh be pleased with her, “There are people who faint when they hear the Quran.” She said. “The Quran is nobler than to have people lose their min
ds from it. Rather, it [should be] as Allâh the Mighty and Sublime said:

Those who fear their Lord tremble with fear by it, then their skins and hearts settle to the remembrance of Allah. (Sûrah Al-Zumar: 23)

Abû ‘Ubayd Al-Qâsim b. Sallâm, Fadâ`il Al-Qur`ân p214.

It is reported that ‘Abdullâh b. ‘Urwah b. Al-Zubayr said, “I asked my grandmother Asmâ` (bint Abî Bakr) – Allâh be pleased with her, ‘How were the Companions of Allâh’s Messenger – Allâh peace and praise be upon him – when they heard the Quran?’ She replied, ‘their eyes would shed tears and they would tremble (with fear), as Allâh described them (in the Quran).’ I said, ‘There are some people here who, when they hear the Quran, fall down unconscious,’ She said, ‘I seek refuge with Allâh from the accursed Shaytân.’”

Al-Bayhaqî, Shu’ab Al-Îmân 3:417; Ibn Al-Mubârak, Al-Zuhd wa Al-Raqâ`iq 3:54 with a slightly variant wording.

It is also reported that Asmâ` was asked, “Did any of the Salaf used to faint out of the fear of Allâh?” She replied, “No, but they used to cry.”

Al-Qâsim b. Salâm, op. cit. p214.

It is reported that Ibn ‘Umar – Allâh be pleased with him – once passed by a man from Iraq who had dropped unconscious. He asked, “What is wrong with him?” [People] replied, “When the Quran is recited to him or he hears the remembrance of Allâh he falls unconscious out of his fear of Allâh.” Ibn ‘Umar said, “We fear Allâh and we do not drop unconscious!”

Ibid p214; Al-Baghawî in his Tafsîr, Sûrah Al-Zumar: 23 with a slightly variant wording.

It is reported that Anas b. Mâlik was asked about people who drop unconscious when the Quran is recited to them. He said, “That is the behavior of the Khawârij.”

Al-Qâsim b. Salâm, op. cit. p215.

It is reported that Muhammad b. Sîrîn said, having been asked about a man who drops unconscious when the Quran is recited to him, “Make an appointment between us and him, we will sit on a wall, and the Quran – from beginning to end – will be recited unto him. If he falls off the wall, he is as he claims.”

Ibid., Al-Baghawî, op. cit. 
rewritten by Abdullah from internet (we forgot the link)

Hati#1

          Kapankah kita merasakan kelezatan sebuah makanan? maka jawabannya adalah  pertama, ketika kita tahu bahwa makanan itu memang lezat. Kedua, ketika kita sudah lama tidak merasakan makanan. yups! semakin lama kita tidak makan, tentu membuat kita semakin rindu terhadap makanan. Contoh riilnya, kapankah ayam bakar akan terasa lezat? ya, jika kita tahu, bahwa itu adalah ayam bakar, juga ketika perut kita merasa lapar, tatkala diri rindu pada makanan...

Contoh selanjutnya, kapan kita merasakan segarnya minuman? tentu ketika kita sedang haus, dan kita tahu bahwa minuman itu dapat menghilangkan dahaga (bukan minyak, oli, dll)....

Maka demikian pula, kita akan mengetahui, dan merasakan cinta Allah, ketika kita telah mengenal Allah! dan    konsekuensiya, kita akan rindu kepadaNya. Ya, pertama, kita harus mengenal Allah! Dengan begitu, kita akan rindu kepadaNya. *Maka semakin seseorang mengenal Allah, maka ia akan semakin rindu kepadaNya.

Semua orang menginginkan kelezatan, maka orang yang berakal, ia akan berusaha meraih kelezatan tersebut, dan menghindari segala sesuatu yang dapat menghalanginya dari kelezatann tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga, ia akan melakukan apapun untuk kelezatan tersebut. Begitu juga, ia akan tinggalkan segala sesuatu yang tampaknya lezat, tapi menghalanginya dari kelezatan yang sebenarnya.

Maka demikianlah amal-amal kita, Allah telah melarang kita melakukan maksiyat! padahal maksiyat itu tampak lezat, akan tetapi bagi setiap mukmin, maksiyat adalah racun yang tampak seperti sesuatu yang lezat. Maka ia tinggalkan maksiyat tersebut, untuk meraih kelezatan yang sebenarnya.

Ketahuilah, Allah tidak melarang manusia untuk merasakan kelezatan di dunia, akan tetapi kita dilarang mencicipi kelezatan yang sesaat, yang membuat mereka kehilangan kelezatan yang sesungguhnya. Dan ini adalah bukti cinta Allah kepada hambanya.

Maka ketahuilah, ketaatan itulah kelezatan sesungguhnya, dan kemaksiyatan adalah kepedihan! dan hati, apabila ia sehat, maka ia bisa membedakan, manakah yang lezat, manakah yang racun, ya.. hati yang sehat akan senantiasa menunjuk keselamatan, sedang hati yang sakit, ia akan tertipu, ia tidak akan bisa merasakan nikmatnya kelezatan yang sesungguhnya! Sebagaimana tubuh manusia, apabila ia sehat, ia bisa merasakan nikmatnya makanan, segarnya minuman, manisnya gula, asinnya garam.Tetapi jika tubuhnya sakit, ia tidak bisa merasakan kelezatan makanan! selezat apapun itu, tidak ada bedanya makanan ini dan itu, semuanya terasa pahit!

Maka begitulah hati, hati yang sehat, ia bisa merasakan kenikmatan, ia bisa membedakan manisnya ketaatan dan pahitnya maksiyat kepada Allah. Ia akan rindu ketaatan sebagaimana tubuh yang lapar rindu kepada makanan, Ia akan sangat rindu kepada Robbnya, karena ia tahu kelezatan yang sesungguhnya. Ia akan membenci kemaksiyatan, karena ia tahu kemaskiyatan membawa petaka kepada dirinya.

Sebaliknya hati yang buruk, ia tidak akan bisa merasakan nikmatnya ketaatan, manisnya ibadah, dan lezatnya ketaqwaan kepada Allah. Bahkan kemaksiyatan terlihat sangat lezat, sangat nikmat, dan ia tidak bisa lepas darinya. Itulah hati... jika ia sehat, maka ia bisa mengenal, kemanakah ia harus berjalan, sedang jika hatinya mati, maka buta-lah arah dan tujuannya.

-hanya hati yang bersih-lah yang kan merasakan rindu kepada penciptanya-